Selasa, 27 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
abhaysrivastav.netabhaysrivastav.net
abhaysrivastav.net - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Berhenti Menunda Waktu Main, Freelancer Perlu Jadw...

Berhenti Menunda Waktu Main, Freelancer Perlu Jadwal Keluarga

Sebagai freelancer, gue sering salah kira bahwa waktu bersama anak bisa ditunda. Ternyata ada harga yang harus dibayar.

Berhenti Menunda Waktu Main, Freelancer Perlu Jadwal Keluarga

Dulu gue pikir jadi freelancer itu surga. Nggak ada bos, nggak ada absen, bisa kerja sambil pakai celana pendek. Semua benar. Tapi ada satu hal yang nggak pernah gue antisipasi: gue jadi gampang banget bilang "nanti" ke anak gue sendiri.

"Nanti ya, Ayah kerja dulu." "Nanti kalau proyek ini kelar kita main." "Nanti, Sayang, Ayah telepon klien dulu." Kata "nanti" itu rasanya aman. Nggak ada yang marah, nggak ada yang protes. Anak gue cuma ngangguk, lalu balik ke kamar. Dan gue, dengan lega, balik ke laptop.

Sampai suatu sore, anak gue yang waktu itu lima tahun duduk di samping gue sambil megang puzzle. Dia nggak minta main. Dia cuma bilang, "Ayah, kalau nanti udah selesai, aku udah tidur ya."

Baca juga: Kenapa Anak Lebih Akrab dengan Layar Daripada Kita yang Kerja di Rumah?

Gue berhenti ngetik. Bukan karena kalimatnya puitis. Tapi karena dia udah paham pola. Dia udah tahu bahwa "nanti" itu artinya "nggak sekarang", dan "nggak sekarang" itu seringnya berarti "nggak sama sekali".

Kerja dari rumah bukan berarti ada di rumah

Ini yang paling sering gue lupakan. Secara fisik, gue ada di rumah hampir sepanjang hari. Tapi secara mental? Gue sering banget nggak ada. Pikiran gue nempel di invoice yang belum dibayar, revisi dari klien, atau deadline yang mepet.

Anak-anak nggak bodoh. Mereka bisa bedain mana orang tua yang benar-benar hadir dan mana yang cuma raganya ada sambil mata nempel di layar. Dan yang lebih nyesek, mereka berhenti mencoba. Mereka nggak nangis, nggak ngambek. Mereka cuma berhenti minta perhatian. Itu tandanya lebih bahaya.

Gue pernah baca satu kalimat yang nempel banget: anak yang berhenti minta perhatian bukan berarti sudah mandiri, bisa jadi dia sudah menyerah. Gue nggak tahu itu dari mana, tapi cukup bikin gue nggak nyaman seminggu.

Yang gue ubah, dan ternyata nggak sesulit yang gue kira

Gue nggak langsung berubah jadi ayah super. Nggak. Tapi gue coba tiga hal kecil yang realistis buat freelancer yang jadwalnya kacau kayak gue.

1. Bikin "jam mati" yang nggak bisa diganggu

Setiap hari, jam 5 sampai 6 sore, laptop gue tutup. Titik. Nggak ada klien yang gue balas, nggak ada revisi yang gue buka. Satu jam itu buat anak. Kadang main, kadang cuma duduk nonton kartun bareng, kadang ngobrol nggak jelas.

Awalnya gue panik. Rasanya kayak buang waktu produktif. Tapi ternyata, satu jam itu bikin gue lebih fokus di jam kerja lainnya karena gue tahu bakal ada jeda. Produktivitas gue nggak turun. Malah gue jadi nggak gampang burnout.

2. Berhenti pakai kata "nanti" tanpa waktu

Ini kelihatan sepele tapi efeknya besar. Sekarang kalau gue harus nunda, gue kasih waktu yang jelas. "Ayah selesai jam setengah lima, habis itu kita main lego." Anak gue jadi punya patokan. Dan yang lebih penting, gue jadi dituntut buat nepatin.

Kalau gue bohong sekali aja, dia bakal ingat. Dan gue harus mulai dari nol lagi buat membangun kepercayaan itu.

3. Libatkan anak di pekerjaan, secukupnya

Kadang gue biarin anak gue duduk di sebelah sambil gambar, waktu gue ngetik. Dia nggak ganggu, dia cuma pengin dekat. Kadang gue cerita singkat, "Ayah lagi nulis buat klien, habis ini kita makan siang bareng ya." Dia jadi paham bahwa kerja itu bagian dari hidup, bukan sesuatu yang menyingkirkan dia.

Anak nggak butuh orang tua yang sempurna. Mereka cuma butuh orang tua yang benar-benar ada, walau cuma sebentar tapi utuh.

Pelajaran yang gue dapat setelah setahun

Gue nggak akan bilang rumah gue sekarang jadi damai sentosa. Masih ada hari-hari di mana gue kewalahan, di mana deadline dan tangisan anak datang bersamaan. Tapi ada perubahan yang gue rasain.

Anak gue sekarang lebih sering cerita. Hal-hal kecil, kayak teman yang jahil atau makanan yang nggak dia suka di sekolah. Dulu dia jarang banget buka suara. Sekarang dia tahu bahwa kalau dia ngomong, ada yang dengerin.

Dan gue juga belajar sesuatu soal diri sendiri. Ternyata gue bukan cuma freelancer yang kebetulan punya anak. Gue ini ayah yang kebetulan kerja dari rumah. Urutannya penting. Waktu gue sadar itu, cara gue ngatur waktu berubah total.

Buat kamu yang juga freelancer dan punya anak kecil di rumah, gue nggak mau sok tahu soal kondisi kamu. Tiap rumah beda. Tapi kalau ada satu hal yang gue harap kamu coba minggu ini, coba tutup laptop satu jam lebih awal. Nggak usah lama-lama. Satu jam aja. Lihat apa yang terjadi.

Siapa tahu, anak kamu juga lagi nunggu momen itu tanpa pernah bilang.

Tags: freelancer parenting hubungan keluarga work life balance mengasuh anak