Malam itu jam sembilan lewat. Laptop gue baru ditutup, mata masih perih gara-gara revisi klien yang minta "sedikit lagi" sejak jam tiga sore. Anak gue, umur enam tahun, duduk di sofa dengan tablet di pangkuan. Gue tanya, "Hari ini main apa aja di sekolah?" Dia jawab singkat, "Biasa aja," tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Dan di situ gue sadar sesuatu yang agak menyakitkan. Seharian ini gue ada di rumah. Fisik gue di sini, di ruang yang sama, cuma beda sudut. Tapi anak gue lebih akrab sama karakter di game tabletnya daripada sama bapaknya sendiri. Padahal kalau dihitung, gue "bareng" dia hampir dua belas jam. Masalahnya, "bareng" dan "hadir" itu dua hal yang beda banget.
Kalau kamu freelancer yang kerja dari rumah, kemungkinan besar kamu pernah atau sedang ada di posisi ini. Kita sering bangga karena bisa kerja sambil "ngawasin" anak. Padahal yang terjadi cuma kita pindah kantor ke rumah, bukan pindah perhatian ke keluarga.
Baca juga: Panduan Pertama Kali Punya Anak: Membangun Ikatan Keluarga Sejak Hari Pertama
Kerja di Rumah Itu Jebakan Kehadiran Semu
Ini yang jarang dibahas di artikel parenting mana pun. Buat pekerja kantoran, pulang kerja itu jelas batasnya. Pintu kantor ditutup, ya selesai. Buat kita? Batasnya kabur. Laptop ada di meja makan, HP bunyi notifikasi di sela-sela nemenin anak mandi, dan kepala kita setengah masih mikirin deadline besok pagi.
Anak itu sebenarnya pintar membaca. Mereka nggak butuh kita jelasin soal deadline. Mereka cuma butuh lihat mata kita. Kalau mata kita lebih sering ke layar daripada ke muka mereka, ya mereka simpulkan sendiri: "Oh, ayah/ibu lagi sibuk, mending aku main sendiri." Lama-lama mereka berhenti nyari perhatian. Bukan karena nggak butuh, tapi karena sudah belajar bahwa nggak akan dapat.
Anak yang berhenti minta perhatian bukan berarti mandiri. Sering kali dia cuma sudah lelah berharap.
Gue pernah baca cerita dari teman sesama freelancer, sebut saja Dita, desainer grafis yang punya anak dua. Dia cerita kalau anak sulungnya pernah bilang ke gurunya, "Mamaku kerjanya di komputer, jadi aku nggak boleh ganggu." Dita dengar itu dari guru, bukan dari anaknya langsung. Dan dia nangis di parkiran sekolah. Bukan karena anaknya nakal, tapi karena anaknya sudah menganggap kehadiran dia sesuatu yang harus dijadwalkan dan dibatasi.
Kenapa Kita Susah Lepas, dan Kenapa Itu Wajar
Gue nggak mau pura-pura jadi orang yang sudah beres soal ini. Kenyataannya, buat freelancer, nolak kerja itu berasa kayak nolak rezeki. Pendapatan kita nggak tetap, jadi setiap proyek berasa harus diambil. Ini yang bikin kita susah banget bikin batas.
Ada juga rasa bersalah yang aneh. Kalau kita main sama anak di jam kerja, muncul perasaan "kok gue malah santai, padahal ada invoice yang belum dikirim". Tapi kalau kita kerja terus, muncul perasaan "kok anak gue tumbuh tanpa gue sadari". Dua-duanya nyata. Dua-duanya melelahkan.
Yang perlu kamu tahu: perasaan bersalah itu nggak akan hilang total. Yang bisa kita ubah adalah seberapa sering kita biarkan perasaan itu mengatur hari kita. Nggak perlu jadi orang tua sempurna yang selalu ada dua puluh empat jam. Itu nggak realistis, apalagi buat kita yang penghasilannya bergantung pada proyek.
Hal-Hal Kecil yang Bisa Kamu Coba Mulai Besok
Gue nggak akan kasih tips yang butuh waktu dua jam sehari, karena kamu nggak punya waktu itu. Ini yang realistis buat freelancer:
- Bikin "jam mati" yang jelas. Pilih satu slot, misalnya jam 6 sampai 7 sore, di mana laptop ditutup dan HP disimpan di kamar. Bukan di saku, bukan di meja. Di kamar. Anak bisa lihat sendiri kalau kamu benar-benar lepas dari layar.
- Ganti pertanyaan "gimana sekolah?" Pertanyaan itu terlalu besar buat anak kecil. Coba "tadi di sekolah ketawa gara-gara apa?" atau "ada yang bikin kesel nggak hari ini?" Pertanyaan spesifik memancing cerita, pertanyaan umum memancing jawaban "biasa aja".
- Libatkan anak di pekerjaan kecilmu. Kalau kamu nggak bisa ninggalin kerjaan, ajak dia duduk dekat. Kasih tugas sederhana, misalnya "bantu ayah susun kertas ini" atau "tulis nama kamu di sini". Anak merasa dilibatkan, kamu tetap produktif.
- Beri tahu, jangan sembunyi. Sebelum mulai kerja, bilang jelas: "Ayah kerja sampai jam empat. Habis itu kita main." Anak lebih sabar menunggu sesuatu yang ada batasnya daripada menunggu tanpa kejelasan.
- Ritual kecil sebelum tidur. Lima menit cerita atau ngobrol sebelum lampu mati. Nggak perlu panjang. Yang penting rutin dan tanpa layar.
Satu Hal yang Sering Dilupakan: Diri Sendiri
Kita sering lupa, jadi orang tua yang hadir itu butuh energi. Kalau kamu seharian sudah habis buat klien, deadline, dan revisi yang nggak masuk akal, wajar kalau sisa energimu tipis. Jadi jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kadang yang kamu butuhkan bukan tips parenting baru, tapi tidur cukup dan satu hari tanpa notifikasi.
Gue sendiri masih belajar. Masih ada hari-hari di mana gue salah, di mana gue lebih lama sama laptop daripada sama anak. Tapi sekarang gue coba lebih jujur sama diri sendiri: kalau gue pilih kerja, gue akui itu pilihan. Kalau gue pilih anak, gue nggak mikirin invoice. Yang penting nggak lagi-lagi pura-pura "ada" padahal pikiran gue di tempat lain.
Anak nggak butuh orang tua yang selalu di rumah. Mereka butuh orang tua yang, saat ada di rumah, benar-benar ada. Buat kita yang kerja dari rumah, itu justru keuntungan terbesar yang kita punya. Sayang banget kalau nggak dipakai.